Laman

Sabtu, 26 Oktober 2024

Jual PRE-ORDER Kaos Distro Aesthetic

 1. Semangat





Rp. 170.000




2. Semangat Bunga Matahari




Rp. 170.000





3. Lentera





Rp. 170.000





4. Absurd





Rp. 170.000





5. From Dark to Light





Rp. 170.000

Rabu, 23 Oktober 2024

Menyelami Kisah Bella Belajar Budaya India

 






Mengetahui seluk-beluk tentang sebuah budaya dibutuhkan banyak belajar. Apalagi, jika budaya yang ingin dipelajari tersebut berasal dari negara lain.
Ibarat seorang fans, di zaman sekarang informasi mengenai pengetahuan dan wawasan yang berkaitan pun bisa didapat dari segala macam sumber.

Seperti yang dilakukan oleh Isabella Fawzi (Bella), Putri sulung dari pasangan Ahmad Zulfikar Fawzi (Ikang Fawzi) dan Marissa Grace Haque (Marissa Haque) dalam sebuah buku yang berjudul "Me and My Bolly Hobby".

Buku Me and My Bolly Hobby tidak jauh-jauh dari judulnya, yakni berisi kisah pengalaman seru Bella selama mendalami budaya India di JNICC (Jawaharlal Nehru India Cultural Centre) daerah Menteng, Jakarta Pusat. Mulai dari tari-tarian India, bahasa, film, lagu, sendratari drama, yoga, sampai hubungan persahabatan dengan sesama teman yang belajar di JNICC dengan mempunyai latar belakang berbeda. Memiliki minat dan tujuan yang sama dengan Bella, yaitu Bollywood. 

Kalau Bella sendiri karena yakin darah India mengalir di tubuh kakek buyutnya yang asli dari negara eksotik itu. Keluarganya sudah tidak meneruskan lagi adat istiadat India. Sehingga, ia merasa kebiasaan yang berhubungan dengan negara India sudah tidak ada jejaknya lagi. Makanya, Bella ingin mengenal asal-usulnya lebih dalam dengan mempelajari budaya India.

Tak jarang, beberapa pertanyaan dari kerabatnya pun sering terlontar kepada Bella, alasan mengapa ia tertarik dengan budaya India. Namun, itu tak menyurutkan niatnya untuk mempelajari segala hal yang berhubungan dengan India. "Meskipun dulu waktu masih remaja masih malu-malu kalau ke-gap suka India, sekarang gue mikir kenapa mesti malu?" (Hal. 10)

Kesempatan pertama Bella menari di panggung datang pas JNICC mengadakan malam kebudayaan di kantor Kedutaan India di Kuningan, Jakarta Selatan. Beberapa bakat bisa ditampilkan di acara itu, antara lain yoga, musik, vokal dan tentunya tari-tarian. (Hal. 34)

Menurut Bella, Kadang sebuah kebahagiaan nggak selalu datang saat kita punya banyak uang atau ketemu sama pujaan hati, tapi lebih daripada itu. "Menurut gue, kebahagiaan yang mutlak adalah kepuasan batin." (Hal. 36)

Tawaran menari kedua kembali datang. Kali ini untuk acara beauty Pageant Miss India Indonesia. Acara ini khusus buat orang-orang India atau keturunan India yang tinggal di Indonesia. Karena namanya Miss India Indonesia, Guru Tarinya akan menggabungkan Tari Khatak dengan Tarian Indonesia, yakni Tari Khatak dan Tari Jawa. (Hal. 37)

Semua yang Bella lakukan semerta-merta adalah buah hasil dari belajar di kelas tarinya bersama Ma'am Rukmini. Beliau banyak mengajarkan beberapa komposisi tari yang masing-masing mempunyai arti sendiri. Sebelum memulai kelas, ia juga biasanya sering melakukan Yoga bersama Ma'am Divya sambil membayangkan dan berimajinasi apa yang dikatakan oleh Sang Guru dengan mata tertutup. 

Selanjutnya, Bella juga belajar India dari musik lagu, film dan media lainnya. Selain bisa bikin galau, udah bukan rahasia lagi kalau lagu-lagu Hindi di film Bollywood mengandung makna-makna yang bisa bikin cewek mana pun ge-er, terutama kalo dinyanyiin sama cowok-cowok. (Hal. 41)

Sedangkan dari film, Bella banyak belajar bahwa film dulu lebih berbobot, banyak nari dan banyak nyanyi. Tidak seperti zaman sekarang yang makin mirip film Barat. Sekarang banyak film Bollywood yang kerjasama dengan Hollywood. Banyak artis-artis India juga yang main bareng sama bule. Diantaranya ada film Speedy Singhs (Breakaway), The Last Region, dan Mission: Impossible. Itu artinya film-film India sekarang tidak kalah bagus. Meskipun dari segi teknologi, film Hollywood masih belum ada yang ngalahin.

Dan pada akhirnya, pengalaman itu menghantarkan ia untuk bertemu langsung dengan Bollywood Stars idola seperti Preity Zinta, Bipasha Bashu, Rani Mukherjee dan Morani Brothers saat bekerja sebagai reporter Global TV pada Konferensi Pers yang acaranya digelar di Sentul Internasional Convention Centre, Bogor. Tawaran demi tawaran pun datang silih berganti setelahnya. Hingga ia pun mendapatkan tiket nonton gratis pada kesempatan acara Indian Film Festival selama seminggu di Kedutaan tempat ia mengenyam pendidikan.

Untuk menggapai mimpinya bisa keliling India dari ujung selatan sampai ujung Utara, Bella melakukan pendekatan lewat majalah yang diproduksi sama kedutaan India. Ia pun berbagi ceritanya tentang traveling ke negara tetangga seperti Malaysia, dan Singapura. Keduanya adalah negara tempat menyebarnya para Imigran India untuk menyebarkan kebudayaan mereka. Tak lupa untuk berbagi informasi spot, makanan ala India, playlist musik dan juga film.

Dalam penyampaiannya, buku ini menggunakan tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, India dan Inggris, yang merupakan percakapan Bella dengan lawan bicaranya. Hanya saja, gaya berceritanya terkesan seperti curhatan yang sangat cepat. Sehingga, pembaca merasa kerepotan dalam mengikuti alur ceritanya.

Kendati demikian, buku setebal 146 halaman ini mengajarkan kita bahwa betapa pentingnya mempelajari, menghormati, menjaga, serta mempertahankan sebuah budaya. Meskipun yang dibahas adalah budaya India. Asalkan tidak meninggalkan budaya negara sendiri, yakni Indonesia.








Data Buku 

Judul : Me and My Bolly Hobby

Penulis : Isabella Fawzi

Penerbit : Bentang Belia

Tebal : x + 146 hlm; 20,8 cm 

Terbit : April, 2014

ISBN : 978-602-7975-76-7

Harga : 34.000,-

Selasa, 22 Oktober 2024

Jual PRE-ORDER Kaos Distro Serial Kemerdekaan


1. Lomba Keroepoek


Keseruan lomba kerupuk dalam suasana kemerdekaan Republik Indonesia kini tergambar jelas pada ilustrasi desain berikut. Apalagi dengan warna background kaos yang segar (ijo royo-royo) beserta 4 karakter orang berkostum sama sedang mengikuti lomba kerupuk semakin menggoda mata untuk dimiliki. Kita dapat merasakan betul betapa sengsaranya bangsa kita pada zaman penjajahan dulu. Menurut ilustrator sendiri, zaman dahulu itu banyak penyiksaan. Boleh jadi, itulah asal mula tercetus lomba kerupuk. Ingin makan kerupuk saja harus jinjit-jinjit sambil menjulurkan lidah sebagai cara memakannya. DAPATKAN! 


Rp. 170.000


2. Balap Kelereng


Balap Kelereng sendirian? Ayo, kejar! Jangan sampai teman lainnya sampai pada garis finish terlebih dahulu. Nah, pada desain yang ke-2, ilustrator juga ingin menggambarkan ketegangan suasana lomba balap kelereng berikut. Setiap peserta berusaha tetap menjaga keseimbangan diri agar kelereng di atas sendok tidak mudah goyang dan pada akhirnya terjatuh. Menandakan gugurnya peserta dalam permainan lomba balap kelereng. Memakai kaos ini bikin kamu funky abis! DAPATKAN JUGA!



Rp 170.000


3. Paku Botol


Memasukkan paku ke dalam botol sembari menggoyangkan pantat sesekali agar paku tidak meleset masuk ke dalam botolnya menjadi trik dari perlombaan paku botol ini. Pada desain yang ke-3 ini juga tak kalah unik. Kaos dengan background abu-abu, bikin kamu makin tersipu malu! AYO DAPATKAN! 



Rp 170.000


4. Tarik Tambang


Tariiiiiik! Ayo, tariiiiik! Biasanya tambang kan digunakan sebagai tali untuk menolong orang yang tercebur sumur. Tapi berbeda halnya dengan ilustrasi desain ke-4 berikut. Ilustrator ingin sekali menuangkan suasana semangat pada peserta lomba tarik tambang. Kedua tangan yang saling menarik, bikin kamu makin nyentrik! DAPATKAN TERUS!


Rp 170.000


5. Balap Karung


17 Agustus tahun 45, pakai kaos balap karung bikin kamu makin terlihat sempurna. Mungkin, itu pantun yang asyik untuk desain kaos ke-5 ini. Tak kalah seru juga dengan ilustrasinya yang merdeka banget! Kamu bisa loncat-loncat kegirangan sesukanya jika memiliki kaos dengan ilustrasi berikut. Dengan karakter seseorang yang sedang meloncat-loncat berselimutkan karung goni. Berharap sampai garis finish terlebih dahulu. Haaap! haaap! haaap! DAPATKAN LAGI, YUK!







Pre Order, waktu 7-9 hari

Bahan : New States Apparel
🌻Kaos agak tebal.
🌻Tidak membentuk lekuk tubuh.
🌻Menyerap keringat.
🌻Tidak melar.
🌻Cocok untuk sehari-hari

Panduan Ukuran (lebar x tinggi) :
🖼️ S (47cm x 68cm)    
🖼️ M (50cm x 71cm)
🖼️ L (53cm x 73cm)
🖼️ XL (56cm x 76cm)
🖼️ XXL (59cm x 78cm)


Berminat? Silakan beri komentar (footprint) atau WA langsung, ya!
👉🏻 📞 085775700183

Terima kasih! 🙏🏻

Remaja Muslim Anti Galau



Istilah galau kini semakin lekat dalam percakapan publik. Pasalnya, kondisi semacam ini hampir dialami oleh setiap orang, tepatnya saat dirundung masalah. Tak hanya menimpa para remaja, bahkan orang dewasa pun sering mengalaminya. Namun, apa sebenarnya definisi galau itu?

Dalam buku ini telah dijelaskan berbagai perspektif terkait definisi galau. Tujuannya agar pembaca tak salah memaknai. Dari segi psikologis, galau diartikan sebagai keadaan yang tidak keruan (menunjukkan rasa sedih, cemas, dan sebagainya). Biasanya, kecemasan tersebut terjadi karena mereka menggunakan emosi terlebih dahulu sebelum berpikir. Jadi, prasangka-prasangka dan perasaan takut sudah lebih dulu menguasai. (hal 10)

Pola pikir seseorang tentu berbeda-beda dalam mengekspresikan perasaan. Ada yang menyikapinya dengan wajar dan biasa saja. Namun ada pula yang terlalu ekspresif sehingga berlebihan dalam menyikapi masalahnya sendiri. (hal 12) 

Hal ini umumnya sering dilakukan oleh para remaja. Di tengah kondisi yang labil, mereka cenderung menampik keadaan yang sebelumnya tidak pernah dialami. Seolah mereka bingung atau belum siap dengan situasi yang terjadi. Kemudian mereka curahkan kegelisahannya pada media yang tidak jelas. Maka, inilah yang perlu kita waspadai.

Efek galau yang berlebihan dapat memicu seseorang pada ilusi-ilusi yang tidak jelas, murung, bahkan bisa berdampak buruk terhadap kondisi psikis selanjutnya. 

Sesorang yang mengalaminya akan menjadi; (1) supersensitif dan gampang khawatir, (2) timbul halusinasi, (3) menjadi orang yang tidak bijak (grasa-grusu) dalam mengambil keputusan, dan (4) lambat laun berdampak buruk bagi kesehatan. 

Galau juga biasanya disebabkan karena ibadah yang tidak maksimal, selalu berpikiran negatif, dan yang sangat parah lupa bersyukur sehingga merasa cobaan yang dihadapi terasa paling berat.

Buku berjenis motivasi remaja ini bukan hanya sekadar teori, tapi berisi wawasan yang luas terkait sudut pandang agama dan para ahli. Di kemas dengan bahasa remaja yang santai, penulis ingin mengajak pembaca agar segera bangkit dari keterpurukan. 

Gaul tanpa galau itu memang perlu. Maka, tak semestinya remaja muslim merasa bimbang. Melalui muhasabah (introspeksi diri), selalu tersenyum dan menikmati masalah yang datang itulah kunci paling sederhana untuk bahagia.

Suatu ayat berbunyi ; “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ra’d [13]:28)” (halaman 12)



Data Buku 

Judul : Ngaku Gaul Kok Galau

Penulis : Eka Siti Nurjanah (Nama Pena : Khalilah Demunisa)

Penerbit : Bunyan

Tebal : x+198 halaman; 20,5 cm

Terbit : Februari 2014

ISBN : 978-602-291-005-3

Harga : Rp 39.000,-

Belajar dari Kesalahan Penggunaan Bahasa Inggris


Saat ini hampir sebagian orang di penjuru dunia pandai berbahasa Inggris. Bagi mereka, bahasa Internasional itu sudah menjadi makanan pokok sehari-hari. Ada yang gemar mempraktikkannya langsung, namun banyak juga yang masih enggan untuk mempelajarinya. Salah satu faktornya adalah rasa takut.

 “Banyak yang takut berbuat salah, padahal salah enggak gelap, salah enggak gigit, salah bahkan enggak bawa pisau dan ngejar-ngejar kamu pada malam hari. Takut salah itu ibarat penghalang yang ada di posisi paling depan ketika kita ingin mencoba melakukan sesuatu” (hal 2). 

Padahal belajar merupakan aktivitas manusia yang berlangsung secara kontinu hingga akhir kehidupannya. Seseorang bisa dikatakan ahli bila ia sering melakukan latihan dan pengulangan. Satu-satunya kegagalan dalam hidup adalah tidak pernah mau mencoba. 

Belajar itu banyak sumbernya, salah satunya yaitu belajar dari kesalahan. Seperti yang disampaikan Karlina Denistia, M.A. dalam buku ke-2 nya yang berjudul “Egnlish”. Jika di buku pertamanya yang berjudul #easyenglish telah menjelaskan cara belajar bahasa Inggris dengan mudah, maka dalam buku terbarunya, buku bahasa Inggris yang judulnya memang sudah salah dari awal & ditulis oleh penulis yang sering bikin kesalahan ini justru menjelaskan tentang kesalahan penggunaan bahasa Inggris yang sudah lazim terjadi. Mulai dari salah grammar, vocabulary, pronunciation, pengejaan, campur-campur bahasa sampai kesalahan dalam menerjemahkan.

Menurut Karlina, “Grammar dan vocabulary adalah basic dari segala skill berbahasa Inggris.  kalau sudah bisa dua hal itu, kita akan pe-de buat ngomong dan nulis pakai bahasa Inggris” (hal 5).

Kesalahan sederhana juga pernah dialaminya. Suatu ketika ia disuruh membuat kalimat menggunakan kata like oleh gurunya. Lalu ia membuat kalimat “I am like cat”. Itu adalah kali pertama ia berani memproduksi kalimat dalam bahasa Inggris di kelas 3 SD dan langsung salah. 

Kalimat “i like cat” dan “i am like cat” ternyata beda arti. “I like cat” artinya ‘saya suka kucing’, “i am like cat” artinya ‘saya seperti kucing’. Beda “am” saja, ternyata beda penangkapan (hal 3). Begitulah awal mula ia suka bahasa Inggris. Kesalahan bisa menjadi ketertarikan seseorang untuk terus belajar.

Saat menginjak SMP, motivasi Karlina untuk belajar bahasa Inggris semakin besar. dengan berpegang teguh pada prinsip “keren adalah anak kecil yang bisa bahasa Inggris”, Karlina mendaftarkan diri dalam kursus bahasa Inggris. Namun karena metode pengajaran tidak sesuai dengan ekspektasi, ia terpaksa harus pindah tempat les. ia hanya bertahan 3 bulan saja di tempat kursusnya dulu.

Pengalamannya pindah les justru memberikannya pengetahuan yang luas terhadap metode pengajaran . “Teacher-student interaction” adalah metode pengajaran konvensional. Guru menjadi pusat pengajaran dan sumber segala ilmu baik pada saat menerangkan maupun pada saat latihan. “Student-student interaction” sebaliknya, peran guru minim dalam metode ini karena guru hanya berfungsi sebagai pemberi materi dan fasilitator saat latihan (hal 6).

Metode terakhir inilah yang kemudian diterapkannya saat jadi pengajar. dengan menerapkan metode Student-student interaction, tembok penghalang murid yang terdiri atas rasa enggan dan malu itu jadi lebih pendek saat berinteraksi dengan teman dibandingkan saat harus berinteraksi dengan gurunya. Metode ini menuntut murid untuk aktif dalam setiap kegiatan.

Dua metode pengajaran yang pernah dikecap Karlina sejak les pun tentu saja ada plus minusnya. Pada akhirnya semua kembali pada kesukaan masing-masing. Pasalnya, semua orang pasti memiliki cara belajar sendiri yang menurutnya paling efektif. Ada yang suka dengan metode belajar klasik dengan guru mengajar di depan dan murid mendengarkan, ada juga yang lebih suka dengan metode belajar interaktif dengan peran guru sebagai fasilitator. 

Selain menceritakan pengalaman dan pengetahuannya tentang kesalahan penggunaan bahasa Inggris, penulis yang telah mendapatkan sertifikasi Teaching English as Foreign Language for Adult dan dipercaya menjadi pengajar bahasa Inggris TIM Nasional U-19 pada 2014 di Yogyakarta ini juga meminta pembaca agar mengerjakan beberapa soal dan games dalam buku ini sebagai bahan pembelajaran.

Gaya penyampaian materinya cukup ringan dan mudah diterima oleh semua kalangan pembaca. Kendati demikian, buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Ada beberapa kata yang ketikannya saling tumpang tindih, sehingga membuat orang yang membacanya merasa bingung.

Terlepas dari kekurangan, buku setebal 166 halaman ini sangat cocok dibaca untuk mereka yang mau belajar dari kesalahan. Bagaimanapun kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kesalahan seharusnya dapat memacu seseorang agar senantiasa mengevaluasi diri demi kebaikan pribadi maupun orang lain.



Data Buku 

Judul : Egnlish

Penulis : Karlina Denistia, M.A.

Penerbit : Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)

Tebal : xiv+166 halaman; 20,8 cm

Terbit : Mei 2014

ISBN : 978-602-7975-99-6

Harga : Rp 39.000

Minggu, 20 Oktober 2024

Sekelumit Kisah di 30 Hari Pertama Pasca Pernikahan




Menjaga keutuhan rumah tangga bukanlah suatu perkara mudah. Ada saja kejutan-kejutan kecil yang kerap kali hadir setiap harinya. Namun, bagaimana jika keduanya tak mampu mempertahankan hubungannya? Tentu saja, perceraianlah yang  akan jadi taruhannya. Demikianlah sebagian isi yang dipaparkan dalam novel “Yummy Tummy Marriage”

Buku fiksi ke-3 karangan Nurilla Iryani ini menceritakan tentang kehidupan sepasang pengantin yang baru saja menikah setelah 3 tahun berpacaran. Adalah Gina Anjani, seorang Brand Executive di salah satu Consumer Goods Company di Jakarta. Gilar, adiknya sering mengeluhkan kebiasaannya. Terlalu banyak ngoceh membuat Gina seperti radio butut yang tidak bisa mati saking berisiknya. Terlebih jika menyangkut soal pesta pernikahan impiannya.

“Meskipun pesta pernikahanku jauh sekali dari impianku, tetapi kebahagiaanku enggak berkurang sedikitpun karena aku telah resmi menikah dengan seorang pria yang membuatku jatuh cinta setiap hari selama tiga tahun terakhir ini, Bara Wiryawan (halaman 3).”

Ditengah proses adaptasi dalam 30 hari pertamanya, romantisme tak pernah luput menyelimuti kehidupan Gina dan Bara. Gina tak pandai memasak, tetapi ia mau belajar sebagai bentuk pengabdiannya terhadap suami. “Banyak orang bilang bahwa cinta pria itu bisa datang dari perut baru ke hati (halaman 15).” Sebaliknya, Bara pun tak pernah lupa untuk mengantar jemput  istri dan ibunya kemanapun.

Sampai suatu hari keduanya saling mengetahui kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Semua hal yang tak pernah mereka temukan sejak pacaran dulu. Bara yang notabene seorang IT Consultant, tak pernah luput dari load pekerjaannya yang selalu tinggi. Ia terlalu sibuk bekerja di kantor. Sementara istrinya seorang blogger, sering menghabiskan waktu dengan melakukan hobbynya berbelanja.

Konflik mulai bermunculan satu persatu. Bara marah besar ketika ia menemukan salah satu tagihan kartu kredit istrinya yang hampir membengkak. “Satu kebohongan kecil seperti ini saja sudah membuat gue kehilangan rasa percaya gue kepada Gina. Jangan-jangan gue selama ini memang sering dibohongi untuk hal-hal lain (halaman 226).” 

Berbagai cara Bara lakukan agar istrinya berhenti dari kebiasaan buruknya. Bara sempat menyewa jasa Finansial Planner untuk memanage keuangan mereka. Alih-alih menyelesaikan permasalahan, tingkat konsumtif Gina malah semakin meningkat.  

Tak cukup sampai disitu saja, munculnya Elsa yang digadang-gadang sebagai klien sekaligus mantan pacar Bara semenjak SMA pun turut menghadirkan permasalahan baru. Kecurigaan Gina terhadap Elsa terbukti karena dia selalu menelpon suaminya di luar jam kantor. Ironisnya sampai saat ini Elsa masih menyimpan rasa terhadap Bara. “Aku udah pernah ketemu orang yang bikin aku nyaman. Sayangnya, aku membiarkan dia pergi begitu saja (halaman 234).” 

Adanya pihak ketiga, seperti hadirnya sosok Wira pun sempat membuat Bara cemburu. Tetapi Gina sangat pintar mengambil hati Bara. Gina sering menyajikan masakan-masakan kesukaannya saat dia sedang marah. Gina tak sadar jika sekarang dirinya tengah mengandung benihnya Bara. Kini, mereka berdua bisa bilang bahwa kisah pacarannya berakhir happy ending, but, every ending is a new beginning (halaman 3).”

Novel “Yummy Tummy Marriage” ini terkesan unik karena penulis selalu menyisipkan berbagai resep masakan dalam setiap ceritanya. Meskipun didominasi masakan western (barat), resep masakan dapat dipraktikkan langsung oleh para pembacanya. Namun, penyelesaian konflik yang terlalu cepat menjadi salah satu kekurangan novel dengan cover berbentuk undangan ini.

Kisah Bara dan Gina secara utuh mendedikasikan kita bahwa dalam memecahkan setiap persoalan rumah tangga tidak harus melulu dengan kekerasan. Justru dengan kepala dinginlah sebuah solusi sering kali timbul. 



Data Buku 

Judul : Yummy Tummy Marriage

Penulis : Nurilla Iryani

Penyunting : Noni Rosliyani

Penerbit : Pustaka Populer (PT Bentang Pustaka)

Tebal : vi+270 halaman; 20,5 cm

Cetakan  : Pertama, Februari 2014

ISBN : 978-602-291-009-1

Harga : Rp 48.000,00-