Laman

Selasa, 22 Oktober 2024

Belajar dari Kesalahan Penggunaan Bahasa Inggris


Saat ini hampir sebagian orang di penjuru dunia pandai berbahasa Inggris. Bagi mereka, bahasa Internasional itu sudah menjadi makanan pokok sehari-hari. Ada yang gemar mempraktikkannya langsung, namun banyak juga yang masih enggan untuk mempelajarinya. Salah satu faktornya adalah rasa takut.

 “Banyak yang takut berbuat salah, padahal salah enggak gelap, salah enggak gigit, salah bahkan enggak bawa pisau dan ngejar-ngejar kamu pada malam hari. Takut salah itu ibarat penghalang yang ada di posisi paling depan ketika kita ingin mencoba melakukan sesuatu” (hal 2). 

Padahal belajar merupakan aktivitas manusia yang berlangsung secara kontinu hingga akhir kehidupannya. Seseorang bisa dikatakan ahli bila ia sering melakukan latihan dan pengulangan. Satu-satunya kegagalan dalam hidup adalah tidak pernah mau mencoba. 

Belajar itu banyak sumbernya, salah satunya yaitu belajar dari kesalahan. Seperti yang disampaikan Karlina Denistia, M.A. dalam buku ke-2 nya yang berjudul “Egnlish”. Jika di buku pertamanya yang berjudul #easyenglish telah menjelaskan cara belajar bahasa Inggris dengan mudah, maka dalam buku terbarunya, buku bahasa Inggris yang judulnya memang sudah salah dari awal & ditulis oleh penulis yang sering bikin kesalahan ini justru menjelaskan tentang kesalahan penggunaan bahasa Inggris yang sudah lazim terjadi. Mulai dari salah grammar, vocabulary, pronunciation, pengejaan, campur-campur bahasa sampai kesalahan dalam menerjemahkan.

Menurut Karlina, “Grammar dan vocabulary adalah basic dari segala skill berbahasa Inggris.  kalau sudah bisa dua hal itu, kita akan pe-de buat ngomong dan nulis pakai bahasa Inggris” (hal 5).

Kesalahan sederhana juga pernah dialaminya. Suatu ketika ia disuruh membuat kalimat menggunakan kata like oleh gurunya. Lalu ia membuat kalimat “I am like cat”. Itu adalah kali pertama ia berani memproduksi kalimat dalam bahasa Inggris di kelas 3 SD dan langsung salah. 

Kalimat “i like cat” dan “i am like cat” ternyata beda arti. “I like cat” artinya ‘saya suka kucing’, “i am like cat” artinya ‘saya seperti kucing’. Beda “am” saja, ternyata beda penangkapan (hal 3). Begitulah awal mula ia suka bahasa Inggris. Kesalahan bisa menjadi ketertarikan seseorang untuk terus belajar.

Saat menginjak SMP, motivasi Karlina untuk belajar bahasa Inggris semakin besar. dengan berpegang teguh pada prinsip “keren adalah anak kecil yang bisa bahasa Inggris”, Karlina mendaftarkan diri dalam kursus bahasa Inggris. Namun karena metode pengajaran tidak sesuai dengan ekspektasi, ia terpaksa harus pindah tempat les. ia hanya bertahan 3 bulan saja di tempat kursusnya dulu.

Pengalamannya pindah les justru memberikannya pengetahuan yang luas terhadap metode pengajaran . “Teacher-student interaction” adalah metode pengajaran konvensional. Guru menjadi pusat pengajaran dan sumber segala ilmu baik pada saat menerangkan maupun pada saat latihan. “Student-student interaction” sebaliknya, peran guru minim dalam metode ini karena guru hanya berfungsi sebagai pemberi materi dan fasilitator saat latihan (hal 6).

Metode terakhir inilah yang kemudian diterapkannya saat jadi pengajar. dengan menerapkan metode Student-student interaction, tembok penghalang murid yang terdiri atas rasa enggan dan malu itu jadi lebih pendek saat berinteraksi dengan teman dibandingkan saat harus berinteraksi dengan gurunya. Metode ini menuntut murid untuk aktif dalam setiap kegiatan.

Dua metode pengajaran yang pernah dikecap Karlina sejak les pun tentu saja ada plus minusnya. Pada akhirnya semua kembali pada kesukaan masing-masing. Pasalnya, semua orang pasti memiliki cara belajar sendiri yang menurutnya paling efektif. Ada yang suka dengan metode belajar klasik dengan guru mengajar di depan dan murid mendengarkan, ada juga yang lebih suka dengan metode belajar interaktif dengan peran guru sebagai fasilitator. 

Selain menceritakan pengalaman dan pengetahuannya tentang kesalahan penggunaan bahasa Inggris, penulis yang telah mendapatkan sertifikasi Teaching English as Foreign Language for Adult dan dipercaya menjadi pengajar bahasa Inggris TIM Nasional U-19 pada 2014 di Yogyakarta ini juga meminta pembaca agar mengerjakan beberapa soal dan games dalam buku ini sebagai bahan pembelajaran.

Gaya penyampaian materinya cukup ringan dan mudah diterima oleh semua kalangan pembaca. Kendati demikian, buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Ada beberapa kata yang ketikannya saling tumpang tindih, sehingga membuat orang yang membacanya merasa bingung.

Terlepas dari kekurangan, buku setebal 166 halaman ini sangat cocok dibaca untuk mereka yang mau belajar dari kesalahan. Bagaimanapun kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kesalahan seharusnya dapat memacu seseorang agar senantiasa mengevaluasi diri demi kebaikan pribadi maupun orang lain.



Data Buku 

Judul : Egnlish

Penulis : Karlina Denistia, M.A.

Penerbit : Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)

Tebal : xiv+166 halaman; 20,8 cm

Terbit : Mei 2014

ISBN : 978-602-7975-99-6

Harga : Rp 39.000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar