Istilah galau kini semakin lekat dalam percakapan publik. Pasalnya, kondisi semacam ini hampir dialami oleh setiap orang, tepatnya saat dirundung masalah. Tak hanya menimpa para remaja, bahkan orang dewasa pun sering mengalaminya. Namun, apa sebenarnya definisi galau itu?
Dalam buku ini telah dijelaskan berbagai perspektif terkait definisi galau. Tujuannya agar pembaca tak salah memaknai. Dari segi psikologis, galau diartikan sebagai keadaan yang tidak keruan (menunjukkan rasa sedih, cemas, dan sebagainya). Biasanya, kecemasan tersebut terjadi karena mereka menggunakan emosi terlebih dahulu sebelum berpikir. Jadi, prasangka-prasangka dan perasaan takut sudah lebih dulu menguasai. (hal 10)
Pola pikir seseorang tentu berbeda-beda dalam mengekspresikan perasaan. Ada yang menyikapinya dengan wajar dan biasa saja. Namun ada pula yang terlalu ekspresif sehingga berlebihan dalam menyikapi masalahnya sendiri. (hal 12)
Hal ini umumnya sering dilakukan oleh para remaja. Di tengah kondisi yang labil, mereka cenderung menampik keadaan yang sebelumnya tidak pernah dialami. Seolah mereka bingung atau belum siap dengan situasi yang terjadi. Kemudian mereka curahkan kegelisahannya pada media yang tidak jelas. Maka, inilah yang perlu kita waspadai.
Efek galau yang berlebihan dapat memicu seseorang pada ilusi-ilusi yang tidak jelas, murung, bahkan bisa berdampak buruk terhadap kondisi psikis selanjutnya.
Sesorang yang mengalaminya akan menjadi; (1) supersensitif dan gampang khawatir, (2) timbul halusinasi, (3) menjadi orang yang tidak bijak (grasa-grusu) dalam mengambil keputusan, dan (4) lambat laun berdampak buruk bagi kesehatan.
Galau juga biasanya disebabkan karena ibadah yang tidak maksimal, selalu berpikiran negatif, dan yang sangat parah lupa bersyukur sehingga merasa cobaan yang dihadapi terasa paling berat.
Buku berjenis motivasi remaja ini bukan hanya sekadar teori, tapi berisi wawasan yang luas terkait sudut pandang agama dan para ahli. Di kemas dengan bahasa remaja yang santai, penulis ingin mengajak pembaca agar segera bangkit dari keterpurukan.
Gaul tanpa galau itu memang perlu. Maka, tak semestinya remaja muslim merasa bimbang. Melalui muhasabah (introspeksi diri), selalu tersenyum dan menikmati masalah yang datang itulah kunci paling sederhana untuk bahagia.
Suatu ayat berbunyi ; “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ra’d [13]:28)” (halaman 12)
Data Buku
Judul : Ngaku Gaul Kok Galau
Penulis : Eka Siti Nurjanah (Nama Pena : Khalilah Demunisa)
Penerbit : Bunyan
Tebal : x+198 halaman; 20,5 cm
Terbit : Februari 2014
ISBN : 978-602-291-005-3
Harga : Rp 39.000,-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar